Minggu, 05 Februari 2012

Empat Lelaki dan Perempuan Tanpa Indung Air Mata



S
ebenarnya Pligi tidak suka lelaki yang menangis. Tapi bagaimana lagi, sepertinya ini menjadi kutukan hidup baginya. Ketika ayahnya memperkosanya, lelaki itu melumat senti demi senti tubuhnya dengan air mata sambil memaki serampangan. Bukan kepada dirinya, tetapi kepada orang lain. Bahkan itu bukan makian untuk ibunya.

“Sialan, kau janda kurang ajar. Seharusnya kamu menservisku seperti ini!”

Dan tentu dengan mulut berbau pesing bir, yang mungkin juga tumpah di sekujur tubuh ayahnya. Baunya yang menyengat, menguar tanpa ampun. Tubuh Pligi kaku. Saat itu merupakan saat yang paling menyakitkan. Pertama kali, dialaminya rasa sakit itu tanpa linangan air mata. Sesudahnya, Pligi tak pernah lagi punya air mata untuk setiap rasa sakit itu. Ia telah berjanji tak akan pernah mengeluarkan air mata sedikit pun untuk lelaki.
***
Sahabat Pligi saat sahabatnya di sekolah menyadari, Pligi jadi pemurung. Ia mencoba menanyai Pligi, mengapa ia bersikap seperti itu. Sahabatnya tak pernah tahu cerita soal Pligi dan ayah Pligi sebenarnya. Namun, beberapa memar di tangan dan kesakitan yang kerap kali terlihat, mengatakan lebih banyak kisah daripada sekadar air mata. Air mata yang tak mungkin bisa dikeluarkan oleh Pligi, karena Pligi telah bersumpah. Tak pernah lagi punya air mata untuk sakitnya.
Sahabat lelakinya itu selalu setia mengantarkan Pligi ke klinik sekolah, mengoleskan salep anti bengkak dan akhirnya mencoba menasehati Pligi untuk dapat percaya kepadanya.
“Bagimu, mungkin aku bukan teman yang baik. Tapi setidaknya aku coba menjadi teman yang kamu percaya. Kamu cerita, ya Ia memohon.
Namun, Pligi hanya menggeleng dan mengatakan semua baik-baik saja. Ia tidak mengeluarkan air mata, tetapi justru sahabatnyalah yang berlinang. Bagi Pligi, air mata yang keluar dari indung sahabatnya itu jauh lebih perih dibandingkan perih ketika sahabatnya mengoleskan salep memar ke bagian tubuhnya yang bengkak.  
Bahkan saat sahabatnya itu mengungkapkan rasa cintanya kepada Pligi, sahabatnya juga mengeluarkan air mata. Pligi menolak ungkapan cinta sahabatnya, dan merespon ungkapan cintanya pendek saja
“Sungguh, aku bukan perempuan yang sebenar-benarnya kaucintai. Dan aku berharap bukan aku. Kau pantas mendapatkan orang yang lebih baik.”
***

“Aku sudah terlanjur mencintaimu, tetapi rasanya  aku tak sudi menjamah tubuhmu.”

Pligi memutuskan membuka masa kelamnya, ketika mantan tunangan memintanya jangan pergi. Ia bercerita bahwa dirinya pernah diperkosa ayahnya. Luruhlah air mata dari kunang-kunang mata lelaki itu. Bercampur dengan rasa marah, dan tidak terima atas perlakuan ayah Pligi kepada Pligi, ia bahkan mengucap serapah akan membunuh ayah Pligi.
Semakin banjir kekecewaan mantan tunangannya itu, ketika Pligi telah beberapa kali diajaknya berkeliling penjuru negeri asing yang belum pernah ia kunjungi. Semacam membuang uang sia-sia kepada boneka yang bahkan baju yang disandangnya sudah koyak.
Di titik ini tumbuh sodetan besar di hati Pligi. Padahal, Pligi telah merasa yakin mantan tunangannya itu dapat menerima keadaannya, tulus. Nyatanya tidak.
Pligi tetap berdiri kaku. Sudah kering air matanya.
***

“Kamu masih punya air mata,” tanya Pligi memberanikan diri, suatu ketika, saat ia bertemu kembali dengan sahabat sekolahnya di sebuah gedung pertunjukan teater secara tak sengaja.
Sahabatnya itu tersenyum, dan menjawab, masih, apalagi, ketika mungkin suatu waktu Pligi menginginkannya kembali untuk mengoleskan obat anti bengkak di memarnya bila hal itu terjadi lagi, begitu jawab sahabatnya.
Pligi mengajak sahabatnya ke sebuah rumah sakit. Setelah mengajaknya masuk ke sebuah kamar dan melihat kondisi ayahnya, Pligi mengajaknya keluar.
“Kau percaya, orang yang kautemui itu ayahku,” tanya Pligi.
Ayah Pligi dirawat, tubuhnya renta, tulangnya sudah banyak yang rapuh. Jangankan untuk berdiri, untuk duduk pun rasanya tak kuasa. Pligi yang merawatnya. Sahabatnya mengangguk.
“Kau percaya, bahwa lelaki itu yang dulu membuatmu harus bekerja keras mengoleskan obat anti bengkak di tanganku?”
Sahabatnya kali ini hanya memandang Pligi. Dan seperti yang sudah-sudah, lelaki itu mengeluarkan air mata di depannya. Sementara, Pligi tidak.
***

Pligi tak bisa lagi mengelak, sahabatnya mengenalkannya dengan seorang lelaki yang pada akhirnya akan ia cintai. Sementara. Lelaki itu bercerita dengan jujur kemudian. Meski ia tidak begitu mencintai lelaki itu tetapi ia luluh.
“Kau mirip sekali dengan adikku,” katanya.
Raut sang adik yang ternyata sangat mirip dengan garis muka milik Pligi. Raut yang ternyata telah terenggut juga dari keluarga lelaki itu karena penyakit jantung bahkan saat ia masih remaja.
Ketika Pligi terbaring di rumah sakit, dan ia harus menjalani terapi kanker, lelaki itulah yang menunggui saat Pligi koma. Bahkan rela jauh-jauh datang dari luar negeri untuk sekedar menungguinya. Mengeluarkan air mata ketika ia melihat slang-slang yang mengait, atau luka-luka bekas operasi yang bahkan tidak pernah didengarnya dari Pligi tetapi dari adik Pligi. Ia juga mengeluarkan air mata, ketika melihat berapa banyak obat yang harus diminum Pligi setiap harinya, setiap lima sampai enam jam sehari.
Lelaki itu berkata,”Kau begitu mirip dengan adikku.”
Keluarga lelaki itu juga sangat menyayangi Pligi. Pligi dianggapnya keluarga sendiri. Pligi sangat dekat dengan ibu lelaki itu. Setiap Pligi datang dimasakkannya masakan kesukaan adik lelaki itu. Pligi merasa ia dianggap sebagai adik perempuan lelaki itu. Hingga, keluarga lelaki itu tahu Pligi punya sakit.
Suatu ketika saat Pligi terbaring, dan ibu lelaki itu menjenguk, ia mendengar igau ibu lelaki itu menyebut sebuah nama. Nama anaknya. Nama anak perempuannya. Nama adik lelaki itu. Nama adik perempuan lelaki itu, yang sudah mati. Pligi sadar, ia tidak suka, ia tidak mau dikait-kaitkan dengan seseorang yang bukan dirinya. Pligi membencinya.
***

Pligi telah kehilangan air mata, yang ada hanya sesak. Ia kini jatuh cinta. Tidak hanya luluh. Tapi benar-benar jatuh cinta. Lelaki itu juga mengeluarkan air mata untuknya. Lelaki itu bukan ayahnya, bukan sahabat laki-lakinya, bukan mantan tunangannya. Pligi menyebutnya kekasihnya.
Lelaki itu mengeluarkan air mata saat mendengar sakitnya. Ia rela datang sebentar dari ujung negeri ke kota Pligi hanya untuk menjenguknya. Lelaki itu setiap malam mendongengkan sebuah hikayat tentang perempuan-perempuan terkuat dari negerinya, apabila sakitnya Pligi sudah sangat, atau ketika Pligi bosan diserbu keinginan-keinginan untuk mati setiap hari.
Lelaki ini, yang bahkan tak tahu menahu tentang ayah Pligi, sahabat lelaki Pligi ataupun mantan tunangan Pligi, mengiriminya sebongkah paket  kebaikan yang tidak biasa, saat Pligi merasa dirinya tak ingin dikasihani orang. Bahkan sebelum lelaki itu tahu, Pligi sepertinya perempuan yang hanya patut dihujani rasa kasihan dan bukan cinta.
Lelaki ini bahkan punya mimpi yang sama dengan mimpi Pligi. Sajak yang senada dengan sajak Pligi. Irama yang sama dengan irama Pligi. Dan yang lebih utama lelaki ini mempunyai aroma khas yang selalu dirindui Pligi. Meski di awal, lelaki ini membuat Pligi muak dengan kecintaannya kepada orangtuanya dan mantan kekasihnya.
Dan Pligi memang hanya ingin mendengarkan saja dongeng-dongengnya. Kadang, bahkan cerita segetir apa pun ingin Pligi dengarkan juga apabila itu keluar dari bibir lelaki itu, dan itulah yang sekedar menjadi pengalihan sementara sakit atau pikiran-pikiran tentang menyudahi hidup Pligi.
“Keluargaku habis dibantai ombak dalam suatu pagi yang kuanggap biasa,” cerita lelaki itu.
Pligi mencintainya tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Pligi mencintainya dengan lugas, tanpa banyak soal atau rasa bangga. Begitulah, Pligi mencintai lelaki itu, karena Pligi tahu tak ada jalan lain selain mencintainya.
Namun sepertinya Pligi menjadi ingin mengetahui perasaan lelaki itu kepadanya. Lelaki itu menjawab dengan jawaban yang Pligi benci, karena mengingatkan Pligi kepada mantan tunangannya dahulu.
“Kamu mirip sekali dengan adikku.”
Seperti sebelumnya, Pligi akan mundur dengan teratur, dan menolak berhubungan kembali dengan lelaki. Dan kali ini pun tetap sama, meski Pligi bersedih, tetapi tetap tanpa mengeluarkan air mata.[]

Sabtu, 28 Januari 2012

Pertandingan Asing


Pligi tak pernah suka dengan pertandingan sepak bola. Bahkan meski Oneiro kekasihnya sangat menggilai pertandingan itu. Ia sendiri pun sepertinya sudah bertindak di luar kesadarannya, saat tiba-tiba ia memesan tiket menonton pertandingan sepak bola di suatu stadion. Bayangkan, tidak dari layar televisi atau mendengarkan siaran radio, namun dari stadion.

Pligi kebetulan mendapat tempat duduk sisi yang kosong, padahal sisi yang lain ramai penonton. Sebuah plang reklame memajang tagline produk berbunyi “No One Like Me” lengkap dengan tanda panah seakan menunjuk padanya, menambah perasaan asing.

“Kalau kita lagi nonton bola, sepertinya terasa hilang aja tuh kesepian.” jawab Oneiro suatu ketika saat Pligi menanyakan alasannya menjadi penggila bola.

Anehnya Pligi tidak merasakan kenikmatan seperti yang dikatakan Oneiro. Apakah Oneiro berbohong padanya? Dulu Oneiro tidak pernah berbohong padanya. Hal terkecil pun disampaikan jujur. Lalu, bila ini jadi sesuatu yang teramat penting bagi Oneiro, mengapa Pligi tidak bisa mengamini kata-kata Oneiro?

Setengah mainan dan skor sudah menjelma 1-1. Orang-orang sudah mulai meregangkan syarafnya memesan sekedar hotdog atau Cola. Namun, Pligi masih mematung sendiri. Seperti ada yang hilang koneksi antara dia dan ruang yang didiaminya.

Hingga, kemudian saat habis pertandingan skor 2-1, dengan perasaan hambar Pligi meninggalkan stadion, dan merutuk Oneiro ternyata juga bisa menipunya.

sby, 28082011

It's Love


Pligi tak pernah memilih ia terlahir sebagai sesuatu yang dibutuhkan manusia. Namun senyampang yang ia tahu, Oneiro lah satu-satunya yang bisa membuat hidupnya berarti dan seberarti itu pulalah ia di hadapan umat manusia. Ia akan lebih berharga bila melebur bersama Oneiro. Ia pun tak pernah bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh cinta.

Gairah Oneiro yang menyaga dan kekuatannya mampu merontokkan Pligi. Ia takhluk pada Oneiro sepenuhnya.

Hanya saja, ia pun tahu Oneiro memang tercipta terlalu berharga juga bagi yang lain. Kemudian, Pligi menyadari bahwa ia adalah obat nyamuk bakar dan Oneiro adalah merk sekotak korek api yang mampu melampuskannya.

sby, 27082011


Note :
Pligi : (bhs Yunani) luka
Oneiro : (bhs Yunani) mimpi

Lingkar Arena

Pligi memasuki arena. Penonton riuh hingar bingar. Namun tak semua penonton meneriakkan namanya. Beberapa mengelu-elukan nama rivalnya.

Pligi mengenakan sarung tinju merah. Ia melakukan pemanasan ringan bukan untuk menyiapkan laga hari itu. Ia hanya berniat memuaskan hasrat paparazzi yang menggilai aksinya.

Lazarus bersiap-siap di sudut yang lain, wajahnya yang misterius dengan kerut merut “hidup segan mati pun tinggal sejengkal”. Kali ini bursa taruhan dimenangkan oleh Pligi, namun siapa yang bisa menduga atas kesombongan sebuah prediksi

Pligi rubuh dihajar Lazarus di ronde ke empat.

Di akhir pertandingan, Pligi hanya melihat bayangan Oneiro berlalu. Oneiro adalah sang penanam taruhan paling besar.

Sby, 26082011

Pligi : (bhs Yunani) luka
Oneiro : (bhs Yunani) mimpi
Lazarus : (bibble) Yang bangkit dari kematian
Terinspirasi dari Film The Hurricane (1999)

Kenangan tentang Tanaman


Dahulu, Oneiro sangat tidak suka dengan tanaman itu. Tanaman yang di sisi kanan kirinya penuh dengan duri. Tak ada bagus-bagusnya baik dari segi bentuk maupun warna. Sampai ia mengenal seseorang bernama Pligi. Pligi adalah seorang herbolog yang sangat menyenangi tanaman itu.

“Tanaman ini tidak butuh banyak air. Aku tidak perlu repot, dan yang jelas bagiku seperti itulah cinta lebih tepatnya”, urai Pligi.

“Cinta terkadang memang butuh sesuatu yang dinamakan pengertian. Dan dengan tidak saling merepotkan kupikir itu jadi sebuah tingkat perkembangan cinta yang unik”, imbuhnya lagi.

Konsep ini yang membuat Oneiro jadi uring-uringan, ia adalah manusia biasa. Konsep cinta Pligi tak dapat diterima oleh Oneiro. Baginya cinta adalah soal kebersamaan. Pengertian adalah konsep yang dapat diterima oleh Oneiro, apabila satu sama lain mengerti bahwa salah satu diantaranya saling membutuhkan satu dengan yang lain.

“Apa kau tak percaya, Pligi, tanamanmu juga butuh matahari? Untuk berkembang dan merimbun. Kau tak pernah terlambat bukan membawanya sekadar untuk keluar jendela, agar tanaman kesayanganmu dapat tersinari matari”, bantah Oneiro.

“Namun, tidak setiap waktu, Oneiro”, unggah Pligi.

Bunga itu dinamainya, Pligi. Bunga yang didapatkan Oneiro dari kekasihnya, mantan lebih tepatnya. Nama mantan kekasihnya. Dan entah mengapa Oneiro jadi menyukai tanaman itu, karena tanaman itu tidak merepotkannya.

Pembaca Berita


: Gara-gara sebuah berita



Sebagai seorang pimpinan redaksi berita, ia menentukan segala sesuatu tetek bengek berita yang akan disajikan. Salah satunya adalah pembaca berita. Kantor berita ini mempunyai dua pembaca berita utama yang mengisi slot berita paling digemari.

Pligi diyakini memiliki karakter yang tepat bila membawakan berita bertema bencana, kesedihan, kecelakaan, kematian, sesuatu yang suram atau hilangnya sebuah harapan. Sedangkan Oneiro membacakan berita sebaliknya, Oneiro membacakan berita tentang kegembiraan, harapan baru, kelahiran, pencapaian dan prestasi.

Yang membuat pimpinan redaksi berita itu galau saat ini adalah, pemirsa tampaknya menganggap kemunculan Oneiro lebih banyak dinanti dan memiliki rating tertinggi daripada Pligi yang membawakan berita tentang kesedihan. Hal ini juga pada akhirnya mempengaruhi citra kantor berita itu.

Hal yang bisa dipahami, Pligi saat ini juga dilanda kegusaran psikologis bila diminta membawakan berita. Karena ia juga yakin bahwa berita yang dibawakan pada akhirnya merupakan kesedihan. Pligi pun menganggap ia tak lebih hanya seorang pembaca perita pembawa sial.

Untuk itu, di awal tahun baru pimpinan redaksi berita ingin mengubah pencitraan tersebut. Ia mendaulat Pligi untuk membawakan berita kemunculan pemimpin baru yang digadang-gadang membawa angin perubahan positif bagi masyarakat. Secara kebetulan Oneiro sedang mengajukan cuti tahun baru. Sehingga Pligi berkesempatan untuk menggantikan tugas Oneiro sementara waktu.

“Hari ini, Pimpinan baru akan dilantik…”, begitu urai Pligi, namun tiba-tiba berita itu terpotong.

“Mohon maaf pemirsa, rupanya ada kabar terkini yang diterima oleh redaksi kami.” dan berita itu terpotong lagi.

Kantor berita itu memutuskan agar Pligi tetap menyiarkan berita mendadak yang diterimanya. Dengan mata berkaca-kaca, akhirnya Pligi meneruskan beritanya.

“Baru saja kami mendengar kabar, bahwa Gedung Parlemen tempat Pimpinan yang akan dilantik, baru saja diledakkan oleh tersangka yang belum diidentifikasi. Seluruh anggota dewan dan pemimpin belum dapat dipastikan keselamatannya. Sementara debu-debu dan api belum bisa dikendalikan”, kemudian mengalirlah suara Pligi di tengah berita ledakan Gedung Parlemen yang baru saja diterima.

Dengan terbata-bata

Pasien


“Seharusnya kamu mencoba diam sejenak, Oneiro. Dan dengarkan sejenak sesekali kata-kataku”, ucap Pligi dalam hati.

Oneiro terlalu sering mendominasi percakapan mereka. Pligi yang (terpaksa) menjadi pendengar. Pulsa telpon yang membengkak, dan Pligi juga harus menanggung. Oneiro yang terus menerus mencurahkan isi hati, sementara Pligi yang terus-menerus menjadi semacam konselor pribadi.

Tapi, mungkin itulah cinta.

Tiba-tiba Pligi tidak bisa hidup tanpa was-was yang timbul karena Oneiro. Tiba-tiba ia menjadi sakau karena tidak mendengar Oneiro mengeluh. Dulu ia beranggapan Oneiro sakit jiwa, kini ia tak bisa menentukan siapa yang lebih sakit diantara mereka.

Pligi kini dirawat dalam bangsal sebuah Rumah Sakit Jiwa.

Pembaca Skor



Kadangkala Pligi berharap pertandingan sepakbola bisa ditayangkan di televisi lebih sering lagi.

“Skornya kira-kira berapa-berapa”, tanya Oneiro.

Pligi pasti akan memberikan rentang skor yang mungkin terjadi.

“Yakin”, tanya Oneiro lagi.

“ Menang tipis selisih 1 gol. Itu prediksiku yang paling positif. Yang paling negatif beda 3 gol kalahnya. Babak awal bakalan ngotot nyerang, babak kedua frustrasi karena tidak gol-gol juga, babak pertengahan ke dua bakalan kebobolan banyak.”

Maka, untuk amannya dan tak ingin membuang uang terlalu banyak, Oneiro memasang taruhan 2-0. Dan tebakannya tepat ia menang banyak.

“Sekarang sering menang”, tanya seorang teman.

“Iya, kekasihku sekarang ahli nujum”, jawab Oneiro.

Madness



Sebuah paket terbungkus kardus putih sudah ada di pegangan tangannya. Seorang kurir mengantarkan paket itu tadi pagi. Di luar kebiasaan, karena pada umumnya mereka datang saat sore hari, namun tidak. Kotak itu berwarna putih dengan pita warna merah menyala.


Oneiro akan pergi ke supermarket, sebelum ia sadar, sebuah paket telah menunggu di depan pintu. Ia menerimanya langsung dari tangan sang kurir. Tampaknya bukan dikirim lewat jasa pengiriman, kurir itu mungkin anak di seberang jalan yang diberi uang seadanya.

“Cepatlah terima, saya mau berangkat sekolah.”, kata sang kurir yang berdiri tak sabaran menunggu Oneiro membuka pintu dan menerima paket itu secara langsung. Kurir itu memakai seragam dan menyelempangkan tas di bahunya.

Setelah di dalam, diletakkannya paket itu di atas meja makan. Ia hampir melompat kaget, lalu menjerit histeris saat melihat isi paket itu.

**

How can I think I'm standing strong,
Yet feel the air beneath my feet?
How can happiness feel so wrong?
How can misery feel so sweet?
How can you let me watch you sleep,
Then break my dreams the way you do?
How can I have got in so deep?
Why did I fall in love with you?(*1

Kami berpapasan di suatu hari yang dingin saat berjalan mengelilingi rumah sakit.

“Ia ditemukan saat sedang makan kucing mentah-mentah”, kata seorang perawat suatu ketika.

Kupandangi sel ukuran 3 x 2 itu, sekeliling kakinya dirantai dan tangannya di borgol, ruangan itu mengeluarkan bau tak sedap. Terang saja, ia tak bisa melakukan buang hajatnya dengan benar. Ia lakukan saat itu juga, di sel itu. Meski ia paling tidak dikeluarkan dari sel 3 kali setiap harinya untuk melakukan pembersihan diri, namun tetap saja tidak ada yang menjamin bahwa ia tidak buang hajat sembarangan, apalagi dengan posisi tangan dan kaki terpasung demikian. Butuh empat penjaga pria untuk berjaga-jaga kaalau-kalau dia kalap.

“Pernah, suatu hari seorang perawat perempuan yang baru saja masuk praktek di sini, habis dia kerjain.”

Ia pun tak bisa makan ataupun berpakaian sendiri, sekali lagi, ini menjadi tanggungan perawat-perawat pria. Memastikan bahwa ia tidak memegang satu alat makan pun. Itu bisa membahayakan orang lain. Pernah suatu kali mata seorang perawat dicungkilnya dengan menggunakan sendok plastik.

**

Lagipula mengapa kamu kesini setiap hari, menghadapi ketidakwarasan. Ada yang rasanya aku cari-cari. Bicara mengenai tokoh novelku nantinya. Apakah hanya itu? Ya, sepertinya kalau kupikir mereka lebih waras daripada orang di luaran.

Black bird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
all your life
you were only waiting for this moment to be free
Blackbird fly, Blackbird fly
Into the light of the dark black night.(*2

            Aku jadi ingat penggalan lagu Beatles ini, siapa yang terpasung dan memasungkan diri? Mereka bisa bebas melakukan apa yang mereka suka tanpa peduli apa yang dikatakan orang-orang. Seharusnya hidup di luar lingkaran mereka lebih bebas. Namun kenyataannya tidak demikian bukan?

**

“Kalau kegilaan adalah penyakit, maka aku juga tidak mau terborgol. Masalahnya, aku tidak gila. Kalau kamu suka makan daging burger, maka aku lebih suka yang lain. Salah?”

Ia tak banyak cakap soal masa lalunya selain ia punya pendengaran ajaib. Ia punya telinga ajaib, yang bisa mendengar pikiran orang lain bahkan itu dari jarak yang sangat jauh.

“Kamu pikir aku gila? Kau tahu siapa yang lebih gila? Mereka yang menempatkanku di sini.”

Saat itu merupakan keadaannya yang paling tenang, ia tidak banyak memberontak atau membentur-benturkan dahinya di terali besi. Meski begitu aku duduk agak berjauhan dengannya, menjaga jarak dan dua orang penjaga siap mengawasi kalau sewaktu-waktu ia mengamuk tanpa diduga.

“Jadi, kau apakan mereka?”

“Mereka adalah kambing-kambing dungu, apa yang layak diperlukan untuk memperlakukan seorang kambing tentunya”

Ia kemudian mengerling pada penjaga, jarinya memberi isyarat. Dia ingin merokok. Perawat itu sigap, dipantikkannya sebatang rokok  untuknya. Ia tidak boleh memegang rokoknya sendiri, jadi perawat itu mengulurkan tangannya di sela teralis, kemudian mulutnya menghampiri menyedot rokok dari tangan perawat itu.

**

Kalau kemudian dia lepas beberapa bulan kemudian, aku baru tahu ketika seorang perawat kenalanku mengabarkanku setelah novelku terbit.

“Seperti biasa, ia suka memanipulasi perawat baru.”, katanya.’

**

Saat ini, aku membaca surat darinya bersama sekotak bingkisan yang terbuka tutupnya. Sebuah toples berisi sesuatu.


“Selamat datang pada kegilaan.
Aku kirimkan satu telingaku untukmu, Oneiro, karena kau telah mendengarkan ceritaku. Ingat, ia bisa bicara tentang masa lalu. Biar ia bercerita sendiri tentang masa laluku.

Pligi
Pasien bangsal 56”

Aku masih belum bisa mengatasi kekagetanku setelah aku tahu, toples itu ternyata benar-benar miliknya. Berisi salah satu potongan telinganya yang telah direndam di air keras, diawetkan.[.]

*1) KATIE MELUA - THE CLOSEST THING TO CRAZY
*2) Beatles - Blackbirds

Silent Night



Aku sudah tidak percaya lagi dengan resolusi. Seakan-akan kata-kata itu lebih nikmat daripada resoles bila dihidangkan pada saat  ini. Malam tahun baru. Lalu saat itu ia menggenggam tanganku. Matanya sudah memerah dan dia bilang, resolusinya ingin menangkap airmata yang jatuh dari pipiku.

Edan, bocah ini! Resolusi macam apa itu?

Tapi, kuanggap dia sedang mabuk atau mungkin meracau, bahkan sudah dalam tahap mengigau, mungkin. Rasanya seperti tidak dapat dinalar bagaimana caranya menangkap airmata yang jatuh dari pipiku?

Aku perhatikan air mukanya, tampaknya ia serius. Tak ada tanda-tanda mengantuk meski matanya sudah memerah sejak tadi.

“Sudahlah, sebaiknya malam ini kita tidur saja.”

**

Jam sebelas malam, langit riuh sekali. Terompet, petasan dan kembang api  ingin menantang kelam dan iri akan sinar bulan dan bintang. Sepertinya aku berharap hujan turun malam ini. Rasanya lebih syahdu suara percik hujan yang turun dibanding riuh terompet dan bunyi petasan. Sayangnya, hujan telah turun sejak sore, meninggalkan jejak basah di paving kompleks perumahanku. Aku terlanjur malas keluar, sementara dia terus saja memandangi langit dari balkon rumah kami.

“Tutup saja pintunya! Berisik!”, bentakku.

Benar. Malam ini yang aku inginkan adalah tidur. Rasanya sudah penat. Segala tetek bengek aktivitas membuatku jadi uring-uringan. Tapi biarlah. Seharusnya dia bisa mengerti.

Ditutupnya pintu balkon lalu ia masuk ke dalam. Dia merengut. Bentakanku sepertinya merenggut semena-mena lengkung cekung senyum dari bibirnya.

Ah, ya sudah. Rasanya aku menang kali ini.

**

“Resolusiku tahun ini ingin jadi kembang api!” katanya suatu ketika.

Di sebuah musim hujan dingin sebelum malam tahun baru tiba. Ia menyeretku kemudian menggamit lenganku
berlari menuju balkon.

“Pelan-pelan, aku nanti jatuh”, seruku. Tapi tentu saja tidak digubrisnya. Kaki kaki kami menderap menaiki tangga menuju balkon.

“Hah! Aku lupa, sekarang sedang turun hujan”, teriaknya muram.

Tak bisakah kamu diam sedikit? Saat ini aku hanya ingin menatap tembok. Aku berdiri di pojokan menutup telinga, sambil berulang-ulang mengucapkan.

“No… No..No!”

Seperti menghadapi ancaman yang sangat ketika ia melakukan kegilaan tiba-tiba saat ini. Aku hanya tidak bisa menerima sebuah situasi yang tiba-tiba berubah. Itu membuatku cepat panik.

Ia kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia duduk di salah satu sisi, menurunkan kakinya di sisi balkon yang paling curam, mengayunkan kakinya kemudian.

“Kau tahu apa yang paling menarik dari malam tahun baru? Kau tak akan menemui seorangpun tidur awal dari biasanya”

“Kau akan berhenti bermimpi dalam sekejap”

“Itu alasannya kau takut untuk bermimpi?”

Dia kemudian bernyanyi lagu tentang tahun baru.

Kemudian, menjatuhkan diri dari atas balkon.

**

Malam tahun baru yang sepi, sehabis tandas makan malam. Kemudian kutenggak Alprazolam Intensol. Lepas satu tahun sudah setelah dia menjatuhkan diri dari atas balkon.

Kamar kedap ini jadi kamar yang asing, sementara hujan mulai turun lagi membasahi langit rumah sakit. Ini malam tahun baru dengan hujan seperti tahun kemarin, namun kamu tak ada di sini seperti tahun itu. Perawat-perawat lalu datang membereskan sisa makanan dari pinggan-pinggan kami, dan baju-baju mereka bertuliskan Pusat Pemulihan Kejiwaan.

(end)

*Alprazolam Intensol : Sejenis obat dengan kelas benzodiazepines, untuk panic disorder, sejenis gangguan kejiwaan.

Ketukan Pintu



Ia tak pernah suka telur ceplok matang. Selalu ia menyisakan kuning telur setengah matang, menunggu krim jingganya meleleh ke permukaan piring. Menyendoknya perlahan lalu menyesapnya. Setiap sarapan ia tak pernah memakai semua takaran mie instantnya. Ia selalu menyisakan separo, lalu menghabiskannya saat tengah malam bila ia terbangun dari tidur. Ia sekedar mendekapku lalu mengecup keningku. Kembali tidur setelah kenyang .

Ia datang saat itu dalam hujan, dengan payung kelabunya terkembang dan mantelnya basah tepercik tampiasnya. Tangan kanannya memegangi payungnya, sementara tangan kirinya menjinjing tas besar. Aku kira, berisi pakaian seadanya. Ia kemudian membunyikan bel rumah kontrakan kecilku dan menunggu sambil memandangi butiran air yang jatuh satu persatu di beranda rumah. Butirannya juga meluruhkan lelehan cairan dari kunang-kunang matanya.

Aku diusir dari rumah, katanya singkat saat aku membukakan pintu. Lalu ia menubrukkan badannya ke arahku, dalam keadaan basah. Singletku pun jadi ikut-ikutan basah. Tampaknya kepalanya terlalu sibuk untuk sekedar memikirkan nasib singletku. Wajar.

Kami basah, sebelum akhirnya aku sadar, kami harus masuk rumah dan mencoba meluruskan cerita. Namun gagal, seharian tatapannya kosong. Ia tak bicara sepatah kata pun selain, kata-kata yang diucapkan padaku sebelumnya . Saluran tiviku masih asyik berceloteh para pemain Barca yang berusaha menjebol gawang Santos, baru saja pertandingan itu berlangsung beberapa menit, sebelum ia datang. Namun tak kuhiraukan, tivinya. Wajar?

Dalam beberapa hari kemudian, ia tidur bersamaku. Berbagi ranjang, dan kami diam. Ia memakai piyama pinjamanku, memelukku, mendekap erat, seolah aku ayahnya. Ibunya mungkin. Beberapa hari saat ia tinggal di rumahku, ia menjadi seperti anak-anak. Enggan pergi ke kantor, enggan melakukan aktivitas orang dewasa pada umumnya. Satu yang tak bisa aku pahami, ia tak pernah lagi berbicara. Tak sepatah katapun, sejak saat kehadirannya.

**

Cangkir coklat hangat sudah dingin di sampingnya sebelum aku memutuskan menggendongnya ke ranjang. Aku baru pulang dari meeting tahunan, dia menungguku dengan piyamanya. Saat aku datang, ia sudah melipatkan kedua sikunya menopang kepalanya kemudian tak sengaja terlelap di meja dapur. Aku dan dia tak pernah bisa saling bicara tentang apa yang terjadi sebelum ia memutuskan ke tempatku.

**

Aku hanya tahu, aku mencintainya, entah bagaimana dengan dia.

**

Jumat, 27 Januari 2012

Kekasih dari Atap Gedung




Ia mendapati cakrawala biru adalah miliknya. Di hadapan, hamparan bukit-bukit dengan kotak-kotak beton, tiang-tiang kunang-kunang artifisial yang belum menyalang. Ia ingin menjemput panorama itu, menyongsongnya. Sepasang sepatu maju-mundur namun setelah itu, melompatlah ia, terbang seperti keinginannya. Jatuh.

**

Treeengg….!!

Alarm kebakaran menggema, semua orang berlarian. Mereka berkemeja dasi, semburat berusaha keluar dari gedung. Yang beruntung masih bisa keluar gedung. Yang tidak, masih terjebak di dalam.

“Kebakaran… kebakaran…”

Sebagian yang berada di lantai atas gedung memilih jalur terdekat, menggapai atap gedung yang terbuka lewat tangga darurat.

Oneiro salah satunya, memilih menyelamatkan diri lewat tangga darurat. Saat ia mencapai atap gedung ia telah bersama sekitar puluhan orang. Semuanya berkeluh kesah, menanyakan apa yang sedang terjadi, pada orang-orang yang baru ditemuinya. Namun tak ada yang tahu persis. Mungkin saja ini bukan sekedar percobaan penyelamatan kebakaran yang biasa diadakan dua bulan sekali oleh pihak asuransi gedung mereka.

Rambut gondrong Oneiro yang rapi, tersibak angin loteng. Dikendurkannya ikatan dasinya. Tangannya beranjak menuju saku jas,  terselip sebungkus rokok, diambilnya satu, kemudian dinyalakan dengan pemantik di saku celananya.

Semua orang tertarik berbicara tentang kejadian saat ini, tapi tidak dengan Oneiro, ia lebih tertarik dengan seorang gadis dengan pakaian kerja serba putih. Kakinya menggantung di pinggiran loteng. Seakan-akan ingin melompat dari atas sana. Oneiro duduk menjejeri.

“Hallo”, sapa gadis itu.

Oneiro hanya menjentikkan rokoknya, membuang abu rokok yang terbakar ke bawah. Membalas sapaan gadis itu dengan senyum.

“Anak baru?” tanya Oneiro.

“Bukan, aku ini kerja di belakang kerja. Hanya jarang keluar dari meja kerja. Datang selalu paling pagi, pulang sudah yang paling akhir.” Kata gadis itu

Oneiro tertawa kecil, ia menyedot lintingan tembakau di jemarinya, sambil menyeringai.
“Pantas aku tak pernah melihatmu. Aku selalu kerja lapangan, datang pun terlambat, pulang selalu berebut minta paling cepat diantara yang lain. Ah.. tapi kau tak mungkin tak makan siang kan?”

“Tentu, hanya aku selalu membawa bekal makan siangku, aku biasanya makan di tempat kerjaku. Boleh dikatakan tidak pernah ke kantin.”

Ya… ada benarnya kalau begitu, pikir Oneiro, ia tak pernah melihat seorang perempuan itu sepertinya di kantin.

“Sepertinya sistem kebakaran kita rusak kali ini. Apa kau melihat asap-asap itu?” Oneiro menoleh ke belakang.

Jalur tangga darurat yang membawanya hingga ke lantai paling atas loteng.

Gadis itu menggeleng.

**
Beberapa jam kemudian beberapa orang sadar, bahwa ini sekedar latihan pengamanan kebakaran biasa.

“Gawat, pintu loteng terkunci dari dalam, kita tak bisa masuk ke gedung lagi.” teriak seseorang.

Tangannya berusaha membuka sebuah pintu yang terhubung dengan tangga darurat gedung. Yang lain rupanya terpancing, tergopoh-gopoh seorang pemuda yang mencoba mencek keadaan dibuat panik, ia membantu lelaki yang tahu lebih dahulu kerusakan pintu. Ya benar, satu-satunya pintu masuk ke dalam gedung dari loteng setinggi 16 lantai itu, macet.

“Ish..” desis Oneiro. Berkali-kali latihan, masih saja kita tertipu dengan alarm jadi-jadian itu.

Dibuangnya putung rokok dengan menekan ujung api di plesteran loteng. Ini adalah rokok ke dua yang dihisapnya. Oneiro kemudian menyelipkan rokoknya yang ke tiga.

“Jangan merokok lagi” cegah gadis itu.

Oneiro hanya bisa tersenyum kuda.

“Kenapa? Ini bukan waktunya aku mendengar ceramah kesehatan kan?”

“Bukan, maksudku aku hanya tidak suka abu rokokmu mengotori sekitarku. Aku tidak suka aroma abu rokok, meski aku tak terganggu bau asap rokoknya”

Oneiro mengambil bekas bungkus rokoknya, mematikan rokoknya.

“Lebih mudah untukmu?”

Gadis itu mengangguk lalu memandangi langit biru di depannya kembali.

**

Diam sejenak, mereka terpekur pada pemandangan di hadapannya. Tiba-tiba gadis itu menggamit jemari Oneiro, menggenggam kemudian menempatkan di dekapan dadanya.

“Entah mengapa, aku sudah merindukanmu” katanya.

Oneiro memandangi gadis itu. Memandangi sibak rambutnya yang hanya diberi jepit kecil di belahan keningnya. Rambutnya bebas tergerai sebahu dihempas angin atap gedung.

“Iya, aku pikir aku juga sudah jatuh cinta padamu. Bahkan mungkin sebelum tanganmu mendekap jemariku seperti sekarang” pikir Oneiro tanpa mengatakannya.

**

“Kalau Tuhan memutuskan kamu pergi, lebih baik Tuhan membiarkan kita tak usah bertemu”

**

“Mungkin kita memang ditakdirkan bersama dalam jarak, dalam bahasa cinta yang tak terungkapkan.”

**

Kesepian. Mereka kesepian. Satu sama lain hanyalah pereda rasa sakit temporer yang semakin dibiarkan berlarut akan saling menyakiti bila terpisah.

**

“Mungkin kita bukan kolase yang tepat yang diciptakan oleh Tuhan”

**

Aroma cengkeh khas menyusup di rongga hidung gadis itu. Ia hanya meyakini Oneiro pernah menjatuhkan diri di sana. Dari atas balkon. Kekasihnya. Dengan aroma cengkeh khas dari rokoknya.

[fin]

Copy (Isn't) Paste



Ia memiliki sepasang anak kembar fraternal. Yang lelaki diberinya nama Oneiro dan yang perempuan diberinya nama Pligi. Kembar fraternal itu lahir sempurna, sehat lucu-lucu dan mempunyai sifat-sifat ibunya, dirinya. Hanya saja mereka berbeda jenis kelamin.

Perempuan itu sudah mendambakan sekian lama. Ia terus menerus berdoa tanpa putus. Kepalanya sampai mencapkan tanda kehitaman di dahinya, mungkin karena terlalu lama bersujud kepada Tuhan.

Diberinya nama Pligi dan Oneiro bukannya tanpa alasan, karena ia harus melewatkan hari-hari penuh mimpi dan kesakitan yang berjalan beriringan saat meminta pada Tuhan. Sebuah keajaiban.

Namun segala mimpi harus terbayar, perempuan memang menempuh kenikmatan dengan menanggung segala luka. Mulai membawa beban payudara dan rasa malu lebih besar dibanding laki-laki, mengkastrasi hasrat seksual dan memendamnya dalam paradigma norma. Nyeri menstruasi, mengandung, nifas, menopause sampai persoalan remeh semacam sepatu hak tinggi, menarik rambut ke atas menyanggul dan menjepitnya dengan paku yang kemudian disebut tusuk konde, menjaga bentuk tubuh. Segala mimpi memang harus terbayar dengan luka.

Tak terkecuali perempuan ini, demi itu semua ia rela. Bahkan saat beberapa bulan sebelum kelahiran kedua anaknya. Ia divonis menderita suatu penyakit. Penyakit itu menganjurkan agar ia merelakan rahimnya, atau hidup dengan penyakit tersebut. Resikonya janin yang dikandungnya tidak selamat. Perempuan itu memilih mati dan anaknya terselamatkan.

Sebatas Tokoh




Oneiro duduk gelisah di mejanya. Ia berusaha menangkap pikiran yang bersliweran di otaknya. Diketuk-ketukkannya tuts huruf di keyboardnya. Namun itu menjadi kesiaan ketika ia menghapusnya kembali.

Pligi yang menyaksikan semua itu hanya berdiam di tempatnya. Ia baru bertindak ketika Oneiro memerintahkannya.

"Duduk!" perintah Oneiro, maka Pligi pun duduk. Begitu juga perintah yang lain.

Hanya saja satu hal yang tak bisa dimengerti oleh Pligi, Oneiro tak pernah memintanya untuk jatuh cinta kepada Oneiro. Pligi pun menduga bahwa hal itu lah yang membuatnya menuruti semua aturan dari penciptanya, Oneiro.

Sampai suatu ketika, Oneiro memerintahkan Pligi untuk bunuh diri. Dan, tentu Pligi melakukannya.

Sby,26082011

Note :
Pligi : (bhs Yunani) luka
Oneiro : (bhs Yunani) mimpi

Stasiun Terakhir



Sudah empat tahun Pligi dan Oneiro hidup bersama. Namun menginjak usia ke dua tahun kebersamaan mereka. Pligi mulai mengeluh akan sikap dingin Oneiro.

Oneiro tak mau lagi diajak bercumbu, bahkan di saat malam-malam paling romantis bagi mereka sekalipun. Belakangan Pligi mengetahui Oneiro berkunjung ke tempat lain.
Stasiun Maya.

Oneiro bisa berjam-jam berada di sana.

Di tengah kejengkelan Pligi, ia mengambil tali tambang kemudian ia pergi juga ke Stasiun Maya. Ia duduk di tengah rel kereta. Dililitkannya tali tambang itu di kedua kakinya, kencang. Kemudian ia berbaring di sana.

Pligi sudah mantap menghadang kereta tidur, berharap Oneiro kembali tidak dingin kepadanya.

sby, 26082011

*kereta tidur : terinspirasi dari judul buku Arvianti Ahmad
Pligi : (bhs Yunani) luka
Oneiro : (bhs Yunani) mimpi

Sepucuk Surat untuk Oneiro



Hari itu cuaca panas sekali, maka dengan keinginan yang menggebu Pligi melepaskan kemeja dan celananya. Ia memutuskan untuk terjun ke sebuah kolam untuk berenang.

Namun diamatinya saja permukaan kolam yang tenang itu. Ada yang ingin ia perbuat sebelum ia terjun. Ia menulis sepucuk surat. Tak pernah diduga, isinya singkat saja. Hanya, dua kalimat.

"Aku ingin menjadi ikan di kolam ini Oneiro. Seperti dirimu yang berenang di otakku, aku ingin menujumu."

Lalu, melompatlah Pligi.

Sebenarnya, siapapun boleh berenang di kolam sedalam tiga meter itu. Hanya saja Pligi abai pada kenyataan. Ia tak bisa berenang. Dan surat itu surat wasiat terakhir darinya.

sby, 22082011

Note :
Pligi : (bhs Yunani) luka
Oneiro : (bhs Yunani) mimpi