Jumat, 27 Januari 2012

Copy (Isn't) Paste



Ia memiliki sepasang anak kembar fraternal. Yang lelaki diberinya nama Oneiro dan yang perempuan diberinya nama Pligi. Kembar fraternal itu lahir sempurna, sehat lucu-lucu dan mempunyai sifat-sifat ibunya, dirinya. Hanya saja mereka berbeda jenis kelamin.

Perempuan itu sudah mendambakan sekian lama. Ia terus menerus berdoa tanpa putus. Kepalanya sampai mencapkan tanda kehitaman di dahinya, mungkin karena terlalu lama bersujud kepada Tuhan.

Diberinya nama Pligi dan Oneiro bukannya tanpa alasan, karena ia harus melewatkan hari-hari penuh mimpi dan kesakitan yang berjalan beriringan saat meminta pada Tuhan. Sebuah keajaiban.

Namun segala mimpi harus terbayar, perempuan memang menempuh kenikmatan dengan menanggung segala luka. Mulai membawa beban payudara dan rasa malu lebih besar dibanding laki-laki, mengkastrasi hasrat seksual dan memendamnya dalam paradigma norma. Nyeri menstruasi, mengandung, nifas, menopause sampai persoalan remeh semacam sepatu hak tinggi, menarik rambut ke atas menyanggul dan menjepitnya dengan paku yang kemudian disebut tusuk konde, menjaga bentuk tubuh. Segala mimpi memang harus terbayar dengan luka.

Tak terkecuali perempuan ini, demi itu semua ia rela. Bahkan saat beberapa bulan sebelum kelahiran kedua anaknya. Ia divonis menderita suatu penyakit. Penyakit itu menganjurkan agar ia merelakan rahimnya, atau hidup dengan penyakit tersebut. Resikonya janin yang dikandungnya tidak selamat. Perempuan itu memilih mati dan anaknya terselamatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar