
Aku sudah tidak percaya lagi dengan resolusi. Seakan-akan kata-kata itu lebih nikmat daripada resoles bila dihidangkan pada saat ini. Malam tahun baru. Lalu saat itu ia menggenggam tanganku. Matanya sudah memerah dan dia bilang, resolusinya ingin menangkap airmata yang jatuh dari pipiku.
Edan, bocah ini! Resolusi macam apa itu?
Tapi, kuanggap dia sedang mabuk atau mungkin meracau, bahkan sudah dalam tahap mengigau, mungkin. Rasanya seperti tidak dapat dinalar bagaimana caranya menangkap airmata yang jatuh dari pipiku?
Aku perhatikan air mukanya, tampaknya ia serius. Tak ada tanda-tanda mengantuk meski matanya sudah memerah sejak tadi.
“Sudahlah, sebaiknya malam ini kita tidur saja.”
**
Jam sebelas malam, langit riuh sekali. Terompet, petasan dan kembang api ingin menantang kelam dan iri akan sinar bulan dan bintang. Sepertinya aku berharap hujan turun malam ini. Rasanya lebih syahdu suara percik hujan yang turun dibanding riuh terompet dan bunyi petasan. Sayangnya, hujan telah turun sejak sore, meninggalkan jejak basah di paving kompleks perumahanku. Aku terlanjur malas keluar, sementara dia terus saja memandangi langit dari balkon rumah kami.
“Tutup saja pintunya! Berisik!”, bentakku.
Benar. Malam ini yang aku inginkan adalah tidur. Rasanya sudah penat. Segala tetek bengek aktivitas membuatku jadi uring-uringan. Tapi biarlah. Seharusnya dia bisa mengerti.
Ditutupnya pintu balkon lalu ia masuk ke dalam. Dia merengut. Bentakanku sepertinya merenggut semena-mena lengkung cekung senyum dari bibirnya.
Ah, ya sudah. Rasanya aku menang kali ini.
**
“Resolusiku tahun ini ingin jadi kembang api!” katanya suatu ketika.
Di sebuah musim hujan dingin sebelum malam tahun baru tiba. Ia menyeretku kemudian menggamit lenganku
berlari menuju balkon.
“Pelan-pelan, aku nanti jatuh”, seruku. Tapi tentu saja tidak digubrisnya. Kaki kaki kami menderap menaiki tangga menuju balkon.
“Hah! Aku lupa, sekarang sedang turun hujan”, teriaknya muram.
Tak bisakah kamu diam sedikit? Saat ini aku hanya ingin menatap tembok. Aku berdiri di pojokan menutup telinga, sambil berulang-ulang mengucapkan.
“No… No..No!”
Seperti menghadapi ancaman yang sangat ketika ia melakukan kegilaan tiba-tiba saat ini. Aku hanya tidak bisa menerima sebuah situasi yang tiba-tiba berubah. Itu membuatku cepat panik.
Ia kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia duduk di salah satu sisi, menurunkan kakinya di sisi balkon yang paling curam, mengayunkan kakinya kemudian.
“Kau tahu apa yang paling menarik dari malam tahun baru? Kau tak akan menemui seorangpun tidur awal dari biasanya”
“Kau akan berhenti bermimpi dalam sekejap”
“Itu alasannya kau takut untuk bermimpi?”
Dia kemudian bernyanyi lagu tentang tahun baru.
Kemudian, menjatuhkan diri dari atas balkon.
**
Malam tahun baru yang sepi, sehabis tandas makan malam. Kemudian kutenggak Alprazolam Intensol. Lepas satu tahun sudah setelah dia menjatuhkan diri dari atas balkon.
Kamar kedap ini jadi kamar yang asing, sementara hujan mulai turun lagi membasahi langit rumah sakit. Ini malam tahun baru dengan hujan seperti tahun kemarin, namun kamu tak ada di sini seperti tahun itu. Perawat-perawat lalu datang membereskan sisa makanan dari pinggan-pinggan kami, dan baju-baju mereka bertuliskan Pusat Pemulihan Kejiwaan.
(end)
*Alprazolam Intensol : Sejenis obat dengan kelas benzodiazepines, untuk panic disorder, sejenis gangguan kejiwaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar