Sabtu, 28 Januari 2012

Madness



Sebuah paket terbungkus kardus putih sudah ada di pegangan tangannya. Seorang kurir mengantarkan paket itu tadi pagi. Di luar kebiasaan, karena pada umumnya mereka datang saat sore hari, namun tidak. Kotak itu berwarna putih dengan pita warna merah menyala.


Oneiro akan pergi ke supermarket, sebelum ia sadar, sebuah paket telah menunggu di depan pintu. Ia menerimanya langsung dari tangan sang kurir. Tampaknya bukan dikirim lewat jasa pengiriman, kurir itu mungkin anak di seberang jalan yang diberi uang seadanya.

“Cepatlah terima, saya mau berangkat sekolah.”, kata sang kurir yang berdiri tak sabaran menunggu Oneiro membuka pintu dan menerima paket itu secara langsung. Kurir itu memakai seragam dan menyelempangkan tas di bahunya.

Setelah di dalam, diletakkannya paket itu di atas meja makan. Ia hampir melompat kaget, lalu menjerit histeris saat melihat isi paket itu.

**

How can I think I'm standing strong,
Yet feel the air beneath my feet?
How can happiness feel so wrong?
How can misery feel so sweet?
How can you let me watch you sleep,
Then break my dreams the way you do?
How can I have got in so deep?
Why did I fall in love with you?(*1

Kami berpapasan di suatu hari yang dingin saat berjalan mengelilingi rumah sakit.

“Ia ditemukan saat sedang makan kucing mentah-mentah”, kata seorang perawat suatu ketika.

Kupandangi sel ukuran 3 x 2 itu, sekeliling kakinya dirantai dan tangannya di borgol, ruangan itu mengeluarkan bau tak sedap. Terang saja, ia tak bisa melakukan buang hajatnya dengan benar. Ia lakukan saat itu juga, di sel itu. Meski ia paling tidak dikeluarkan dari sel 3 kali setiap harinya untuk melakukan pembersihan diri, namun tetap saja tidak ada yang menjamin bahwa ia tidak buang hajat sembarangan, apalagi dengan posisi tangan dan kaki terpasung demikian. Butuh empat penjaga pria untuk berjaga-jaga kaalau-kalau dia kalap.

“Pernah, suatu hari seorang perawat perempuan yang baru saja masuk praktek di sini, habis dia kerjain.”

Ia pun tak bisa makan ataupun berpakaian sendiri, sekali lagi, ini menjadi tanggungan perawat-perawat pria. Memastikan bahwa ia tidak memegang satu alat makan pun. Itu bisa membahayakan orang lain. Pernah suatu kali mata seorang perawat dicungkilnya dengan menggunakan sendok plastik.

**

Lagipula mengapa kamu kesini setiap hari, menghadapi ketidakwarasan. Ada yang rasanya aku cari-cari. Bicara mengenai tokoh novelku nantinya. Apakah hanya itu? Ya, sepertinya kalau kupikir mereka lebih waras daripada orang di luaran.

Black bird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
all your life
you were only waiting for this moment to be free
Blackbird fly, Blackbird fly
Into the light of the dark black night.(*2

            Aku jadi ingat penggalan lagu Beatles ini, siapa yang terpasung dan memasungkan diri? Mereka bisa bebas melakukan apa yang mereka suka tanpa peduli apa yang dikatakan orang-orang. Seharusnya hidup di luar lingkaran mereka lebih bebas. Namun kenyataannya tidak demikian bukan?

**

“Kalau kegilaan adalah penyakit, maka aku juga tidak mau terborgol. Masalahnya, aku tidak gila. Kalau kamu suka makan daging burger, maka aku lebih suka yang lain. Salah?”

Ia tak banyak cakap soal masa lalunya selain ia punya pendengaran ajaib. Ia punya telinga ajaib, yang bisa mendengar pikiran orang lain bahkan itu dari jarak yang sangat jauh.

“Kamu pikir aku gila? Kau tahu siapa yang lebih gila? Mereka yang menempatkanku di sini.”

Saat itu merupakan keadaannya yang paling tenang, ia tidak banyak memberontak atau membentur-benturkan dahinya di terali besi. Meski begitu aku duduk agak berjauhan dengannya, menjaga jarak dan dua orang penjaga siap mengawasi kalau sewaktu-waktu ia mengamuk tanpa diduga.

“Jadi, kau apakan mereka?”

“Mereka adalah kambing-kambing dungu, apa yang layak diperlukan untuk memperlakukan seorang kambing tentunya”

Ia kemudian mengerling pada penjaga, jarinya memberi isyarat. Dia ingin merokok. Perawat itu sigap, dipantikkannya sebatang rokok  untuknya. Ia tidak boleh memegang rokoknya sendiri, jadi perawat itu mengulurkan tangannya di sela teralis, kemudian mulutnya menghampiri menyedot rokok dari tangan perawat itu.

**

Kalau kemudian dia lepas beberapa bulan kemudian, aku baru tahu ketika seorang perawat kenalanku mengabarkanku setelah novelku terbit.

“Seperti biasa, ia suka memanipulasi perawat baru.”, katanya.’

**

Saat ini, aku membaca surat darinya bersama sekotak bingkisan yang terbuka tutupnya. Sebuah toples berisi sesuatu.


“Selamat datang pada kegilaan.
Aku kirimkan satu telingaku untukmu, Oneiro, karena kau telah mendengarkan ceritaku. Ingat, ia bisa bicara tentang masa lalu. Biar ia bercerita sendiri tentang masa laluku.

Pligi
Pasien bangsal 56”

Aku masih belum bisa mengatasi kekagetanku setelah aku tahu, toples itu ternyata benar-benar miliknya. Berisi salah satu potongan telinganya yang telah direndam di air keras, diawetkan.[.]

*1) KATIE MELUA - THE CLOSEST THING TO CRAZY
*2) Beatles - Blackbirds

Tidak ada komentar:

Posting Komentar