Jumat, 27 Januari 2012

Kekasih dari Atap Gedung




Ia mendapati cakrawala biru adalah miliknya. Di hadapan, hamparan bukit-bukit dengan kotak-kotak beton, tiang-tiang kunang-kunang artifisial yang belum menyalang. Ia ingin menjemput panorama itu, menyongsongnya. Sepasang sepatu maju-mundur namun setelah itu, melompatlah ia, terbang seperti keinginannya. Jatuh.

**

Treeengg….!!

Alarm kebakaran menggema, semua orang berlarian. Mereka berkemeja dasi, semburat berusaha keluar dari gedung. Yang beruntung masih bisa keluar gedung. Yang tidak, masih terjebak di dalam.

“Kebakaran… kebakaran…”

Sebagian yang berada di lantai atas gedung memilih jalur terdekat, menggapai atap gedung yang terbuka lewat tangga darurat.

Oneiro salah satunya, memilih menyelamatkan diri lewat tangga darurat. Saat ia mencapai atap gedung ia telah bersama sekitar puluhan orang. Semuanya berkeluh kesah, menanyakan apa yang sedang terjadi, pada orang-orang yang baru ditemuinya. Namun tak ada yang tahu persis. Mungkin saja ini bukan sekedar percobaan penyelamatan kebakaran yang biasa diadakan dua bulan sekali oleh pihak asuransi gedung mereka.

Rambut gondrong Oneiro yang rapi, tersibak angin loteng. Dikendurkannya ikatan dasinya. Tangannya beranjak menuju saku jas,  terselip sebungkus rokok, diambilnya satu, kemudian dinyalakan dengan pemantik di saku celananya.

Semua orang tertarik berbicara tentang kejadian saat ini, tapi tidak dengan Oneiro, ia lebih tertarik dengan seorang gadis dengan pakaian kerja serba putih. Kakinya menggantung di pinggiran loteng. Seakan-akan ingin melompat dari atas sana. Oneiro duduk menjejeri.

“Hallo”, sapa gadis itu.

Oneiro hanya menjentikkan rokoknya, membuang abu rokok yang terbakar ke bawah. Membalas sapaan gadis itu dengan senyum.

“Anak baru?” tanya Oneiro.

“Bukan, aku ini kerja di belakang kerja. Hanya jarang keluar dari meja kerja. Datang selalu paling pagi, pulang sudah yang paling akhir.” Kata gadis itu

Oneiro tertawa kecil, ia menyedot lintingan tembakau di jemarinya, sambil menyeringai.
“Pantas aku tak pernah melihatmu. Aku selalu kerja lapangan, datang pun terlambat, pulang selalu berebut minta paling cepat diantara yang lain. Ah.. tapi kau tak mungkin tak makan siang kan?”

“Tentu, hanya aku selalu membawa bekal makan siangku, aku biasanya makan di tempat kerjaku. Boleh dikatakan tidak pernah ke kantin.”

Ya… ada benarnya kalau begitu, pikir Oneiro, ia tak pernah melihat seorang perempuan itu sepertinya di kantin.

“Sepertinya sistem kebakaran kita rusak kali ini. Apa kau melihat asap-asap itu?” Oneiro menoleh ke belakang.

Jalur tangga darurat yang membawanya hingga ke lantai paling atas loteng.

Gadis itu menggeleng.

**
Beberapa jam kemudian beberapa orang sadar, bahwa ini sekedar latihan pengamanan kebakaran biasa.

“Gawat, pintu loteng terkunci dari dalam, kita tak bisa masuk ke gedung lagi.” teriak seseorang.

Tangannya berusaha membuka sebuah pintu yang terhubung dengan tangga darurat gedung. Yang lain rupanya terpancing, tergopoh-gopoh seorang pemuda yang mencoba mencek keadaan dibuat panik, ia membantu lelaki yang tahu lebih dahulu kerusakan pintu. Ya benar, satu-satunya pintu masuk ke dalam gedung dari loteng setinggi 16 lantai itu, macet.

“Ish..” desis Oneiro. Berkali-kali latihan, masih saja kita tertipu dengan alarm jadi-jadian itu.

Dibuangnya putung rokok dengan menekan ujung api di plesteran loteng. Ini adalah rokok ke dua yang dihisapnya. Oneiro kemudian menyelipkan rokoknya yang ke tiga.

“Jangan merokok lagi” cegah gadis itu.

Oneiro hanya bisa tersenyum kuda.

“Kenapa? Ini bukan waktunya aku mendengar ceramah kesehatan kan?”

“Bukan, maksudku aku hanya tidak suka abu rokokmu mengotori sekitarku. Aku tidak suka aroma abu rokok, meski aku tak terganggu bau asap rokoknya”

Oneiro mengambil bekas bungkus rokoknya, mematikan rokoknya.

“Lebih mudah untukmu?”

Gadis itu mengangguk lalu memandangi langit biru di depannya kembali.

**

Diam sejenak, mereka terpekur pada pemandangan di hadapannya. Tiba-tiba gadis itu menggamit jemari Oneiro, menggenggam kemudian menempatkan di dekapan dadanya.

“Entah mengapa, aku sudah merindukanmu” katanya.

Oneiro memandangi gadis itu. Memandangi sibak rambutnya yang hanya diberi jepit kecil di belahan keningnya. Rambutnya bebas tergerai sebahu dihempas angin atap gedung.

“Iya, aku pikir aku juga sudah jatuh cinta padamu. Bahkan mungkin sebelum tanganmu mendekap jemariku seperti sekarang” pikir Oneiro tanpa mengatakannya.

**

“Kalau Tuhan memutuskan kamu pergi, lebih baik Tuhan membiarkan kita tak usah bertemu”

**

“Mungkin kita memang ditakdirkan bersama dalam jarak, dalam bahasa cinta yang tak terungkapkan.”

**

Kesepian. Mereka kesepian. Satu sama lain hanyalah pereda rasa sakit temporer yang semakin dibiarkan berlarut akan saling menyakiti bila terpisah.

**

“Mungkin kita bukan kolase yang tepat yang diciptakan oleh Tuhan”

**

Aroma cengkeh khas menyusup di rongga hidung gadis itu. Ia hanya meyakini Oneiro pernah menjatuhkan diri di sana. Dari atas balkon. Kekasihnya. Dengan aroma cengkeh khas dari rokoknya.

[fin]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar