Sabtu, 28 Januari 2012

Ketukan Pintu



Ia tak pernah suka telur ceplok matang. Selalu ia menyisakan kuning telur setengah matang, menunggu krim jingganya meleleh ke permukaan piring. Menyendoknya perlahan lalu menyesapnya. Setiap sarapan ia tak pernah memakai semua takaran mie instantnya. Ia selalu menyisakan separo, lalu menghabiskannya saat tengah malam bila ia terbangun dari tidur. Ia sekedar mendekapku lalu mengecup keningku. Kembali tidur setelah kenyang .

Ia datang saat itu dalam hujan, dengan payung kelabunya terkembang dan mantelnya basah tepercik tampiasnya. Tangan kanannya memegangi payungnya, sementara tangan kirinya menjinjing tas besar. Aku kira, berisi pakaian seadanya. Ia kemudian membunyikan bel rumah kontrakan kecilku dan menunggu sambil memandangi butiran air yang jatuh satu persatu di beranda rumah. Butirannya juga meluruhkan lelehan cairan dari kunang-kunang matanya.

Aku diusir dari rumah, katanya singkat saat aku membukakan pintu. Lalu ia menubrukkan badannya ke arahku, dalam keadaan basah. Singletku pun jadi ikut-ikutan basah. Tampaknya kepalanya terlalu sibuk untuk sekedar memikirkan nasib singletku. Wajar.

Kami basah, sebelum akhirnya aku sadar, kami harus masuk rumah dan mencoba meluruskan cerita. Namun gagal, seharian tatapannya kosong. Ia tak bicara sepatah kata pun selain, kata-kata yang diucapkan padaku sebelumnya . Saluran tiviku masih asyik berceloteh para pemain Barca yang berusaha menjebol gawang Santos, baru saja pertandingan itu berlangsung beberapa menit, sebelum ia datang. Namun tak kuhiraukan, tivinya. Wajar?

Dalam beberapa hari kemudian, ia tidur bersamaku. Berbagi ranjang, dan kami diam. Ia memakai piyama pinjamanku, memelukku, mendekap erat, seolah aku ayahnya. Ibunya mungkin. Beberapa hari saat ia tinggal di rumahku, ia menjadi seperti anak-anak. Enggan pergi ke kantor, enggan melakukan aktivitas orang dewasa pada umumnya. Satu yang tak bisa aku pahami, ia tak pernah lagi berbicara. Tak sepatah katapun, sejak saat kehadirannya.

**

Cangkir coklat hangat sudah dingin di sampingnya sebelum aku memutuskan menggendongnya ke ranjang. Aku baru pulang dari meeting tahunan, dia menungguku dengan piyamanya. Saat aku datang, ia sudah melipatkan kedua sikunya menopang kepalanya kemudian tak sengaja terlelap di meja dapur. Aku dan dia tak pernah bisa saling bicara tentang apa yang terjadi sebelum ia memutuskan ke tempatku.

**

Aku hanya tahu, aku mencintainya, entah bagaimana dengan dia.

**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar