Sabtu, 28 Januari 2012
Pasien
“Seharusnya kamu mencoba diam sejenak, Oneiro. Dan dengarkan sejenak sesekali kata-kataku”, ucap Pligi dalam hati.
Oneiro terlalu sering mendominasi percakapan mereka. Pligi yang (terpaksa) menjadi pendengar. Pulsa telpon yang membengkak, dan Pligi juga harus menanggung. Oneiro yang terus menerus mencurahkan isi hati, sementara Pligi yang terus-menerus menjadi semacam konselor pribadi.
Tapi, mungkin itulah cinta.
Tiba-tiba Pligi tidak bisa hidup tanpa was-was yang timbul karena Oneiro. Tiba-tiba ia menjadi sakau karena tidak mendengar Oneiro mengeluh. Dulu ia beranggapan Oneiro sakit jiwa, kini ia tak bisa menentukan siapa yang lebih sakit diantara mereka.
Pligi kini dirawat dalam bangsal sebuah Rumah Sakit Jiwa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar